Senin, 19 Januari 2009
Dunia Adalah Tempat Ujian dan Cobaan
Abdul Malik bin Abhar berkata, "Tidak ada seorang manusia pun, melainkan akan diuji dengan kesehatan untuk melihat apakah ia mensyukurinya. Atau diuji dengan musibah untuk melihat apakah ia bersabar atasnya".
Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah ujian dan cobaan sebagaimana firmanNya, artinya, "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. al-Mulk: 2) dalam firmanNya yang lain, artinya, "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS. al-Anbiya`: 35).
Saudaraku .. apabila engkau telah yakin bahwa engkau tidak akan terhindar dari ditimpanya sebuah cobaan ataupun ujian, maka apakah engkau telah menanamkan dalam dirimu sebuah kesabaran, jika mendapati ujian keburukan? Dan apakah engkau siap bersyukur terhadap kebaikan yang diberikan serta ridha terhadap taqdir?
Sesungguhnya kebenaran iman seseorang tidak akan tampak dengan jelas, kecuali ketika ia tertimpa suatu musibah, maka saat itulah akan terlihat secara jelas perbedaan orang yang sabar dan orang yang murka (terhadap musibah tersebut). Antara orang yang beriman dan orang yang ragu-ragu.
Sebagian ulama Salaf berkata, “Saya melihat kebanyakan manusia mengalami kegelisahan yang sangat mendalam melebihi batas ketika tertimpa sebuah musibah seolah-olah mereka tidak tahu bahwa dunia ini memang diadakan untuk hal itu. Bukankah orang yang sehat tidaklah menunggu kecuali kapan datangnya sakit? Orang yang dewasa tidaklah menunggu kecuali kapan datangnya masa tua? Dan sesuatu yang 'ada' (selain Allah Ta’ala) tidaklah menunggu melainkan kapan 'ditiadakan'.'
Beberapa Adab dan Etika ketika Tertimpa Musibah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sangat mengherankan urusan orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkara (yang menimpanya) baginya adalah semuanya baik. Tidaklah hal itu dimiliki oleh siapa pun kecuali bagi seorang mukmin, jika ia mendapatkan kebaikan, maka ia bersyukur dan hal itu adalah baik baginya, dan jika ia tertimpa suatu musibah maka ia bersabar dan itu adalah baik baginya". (HR. Muslim)
Hadits tersebut menunjukkan kebaikan sebuah musibah atau cobaan yang menimpa seorang mukmin apabila ia bersabar. al-Hasan berkata, "Sabar adalah harta simpanan dari tabungan kebaikan yang tidaklah Allah Ta’ala berikan melainkan kepada seorang hamba yang mulia disisiNya".
Dan di antara bentuk-bentuk kesabaran atau adab ketika tertimpa musibah adalah :
• Hendaknya sabar itu terjadi di awal kejadian, yaitu ketika terjadi bencana yang besar, seperti kematian, sakit keras, kecurian, kebakaran atau yang sejenisnya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Hanyasanya sabar itu adalah ketika di awal kejadian". (HR. al-Bukhari dan Muslim)
• Tenangnya seluruh anggota badan dengan menjauhkannya dari hal-hal yang dilarang oleh syari`at, seperti menampar-nampar pipi, membentur-benturkan kepala, merobek baju, menjambak-jambak rambut dan yang semisalnya kecuali menangis karena hal itu dibolehkan. Ahli hikmah berkata, "Kesedihan dan kegelisahan tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang, akan tetapi akan menambah kegembiraan orang yang senang ketika orang lain tertimpa musibah".
• Tidak terlihatnya perubahan yang berarti akibat musibah yang menimpa, seolah-olah sama antara ketika ia tertimpa musibah dan tidak tertimpa musibah. Bakr bin Abdullah al-Muzani berkata, "Adalah pernah dikatakan, “Termasuk lemah (bersedih yang berlebihan) adalah berdiam di rumah setelah terjadinya musibah". Khalid bin Abi Utsman berkata, "Anak laki-laki saya meninggal dunia lalu Sa`id bin Jubair melihat saya dalam keadaan menutup wajah (menutup diri), maka ia berkata kepadaku, “Jauhilah olehmu menutup wajah (menutup diri) karena hal itu termasuk bersedih yang berlebihan (lemah tidak bersemangat akibat musibah). Sedangkan menangis tanpa mengeluarkan suara, ataupun bersedih yang tidak berlebihan, dan tidak mengucapkan perkataan-perkataan yang diharamkan, maka hal tersebut tidak menafikan kesabaran dan ridha. Allah Ta’ala berfirman berkaitan dengan Nabi Ya`qub alaihis salam ,, artinya, "Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (QS.Yusuf :84). Qatadah berkata, “Menahan amarah karena sedih, maka ia tidaklah mengucapkan sesuatu kecuali kebaikan,” dalam ayat berikutnya, artinya, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya". (QS. Yusuf: 86).
• Di antara yang dapat menafikan kesabaran sehingga seseorang tidak dikatakan sabar adalah, memperlihatkan musibah yang menimpanya, berkeluh kesah dan menceritakan hal tersebut kepada orang lain tanpa adanya faidah yang diperoleh. Imam al-Ahnaf berkata, "Kedua mataku telah buta sejak 40 tahun, dan tidak pernah aku ceritakan hal tersebut kepada seorang pun". Fudhail bin Iyad berkata kepada seseorang yang sedang mengeluh kepada orang lain, "Wahai saudaraku... engkau mengeluhkan sesuatu yang engkau harapkan dapat mengasihimu kepada yang tidak mampu memberikan kasih sayang…! ".
Tips agar Tetap Tegar dan Tidak Stres ketika Tertimpa Musibah
Sudah maklum bahwa musibah adalah sebuah ujian dan cobaan yang datang dari Allah Ta’ala untuk menguji hambaNya sebagai pembersih dan penghapus dosa-dosanya serta menjadikannya dalam timbangan kebaikan mereka apabila bersabar. Ironisnya sebagian kaum muslimin yang lemah imannya tidak mampu bersabar ketika mendapatkan musibah. Sampai-sampai ada yang nekad bunuh diri, stress, atau yang lainnya. Sungguh sangat memprihatinkan.
Adapun tips agar seseorang tetap tegar dan tidak stress ketika tertimpa musibah di antaranya adalah :
• Hendaknya ia mengetahui, bahwa dunia adalah tempat ujian dan cobaan.
• Harus dipahami bahwa musibah adalah merupakan sebuah ketetapan atau sunnatullah.
• Memahami bahwa di sana masih ada musibah yang lebih besar dan banyak jumlahnya.
• Mengambil pelajaran dari keadaan orang-orang yang tertimpa musibah yang sama, karena hal itu akan mendatangkan ketenangan
• Memandang keadaan orang-orang yang tertimpa musibah yang lebih besar dari musibah yang menimpanya, sehingga ia lebih bersyukur karena musibah yang menimpanya ternyata masih ringan.
• Berdo’a dan mengharapkan ganti yang lebih baik, dari apa yang telah hilang darinya. Jika yang menimpanya sesuatu yang dapat tergantikan dengan yang lain seperti hilangnya harta, meninggalnya anak, pasangan hidup atau yang semisalnya.
• Mengharap pahala dan balasan kebaikan dari Allah Ta’ala dengan bersabar.
Hendaknya seorang hamba tahu bahwa bagaimana pun berjalannya sebuah ketetapan atau taqdir adalah merupakan sesuatu yang terbaik bagi dirinya.
• Mengetahui bahwa beratnya cobaan dan dahsyatnya ujian hal itu adalah dikhususkan bagi orang-orang pilihan. Jika hal itu terjadi terhadap orang yang ahli ibadah, maka hal itu menunjukkan bahwa ia adalah termasuk pilihan.
• Memahami bahwa ia adalah seorang hamba (makhluk yang dimiliki) dan seseorang yang dimiliki tidaklah ia memiliki dirinya sedikit pun.
• Musibah yang terjadi adalah berdasarkan ridha dari Yang Empunya (Allah), maka sudah merupakan kewajiban bagi seorang hamba untuk ridha terhadap apa yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala.
• Mengoreksi diri ketika ia bersedih akibat musibah. Hal tersebut adalah sesuatu yang perlu dilakukan.
• Memahami bahwa musibah adalah hanya sesaat saja, seolah-olah ia tidak pernah terjadi. Mungkin bisa dibenarkan orang yang mengatakan, “Badai pasti berlalu”.
Beberapa Faidah dari Ujian dan Cobaan
Ujian dan cobaan memilki hikmah rabbaniyyah dan faidah yang sangat agung. Hal itu dapat diketahui melalui penelitian, atau dari kenikmatan-kenikmatan yang diperoleh akibat musibah yang menimpa seseorang. Dan ada pula hikmah-hikmah yang mungkin belum tersingkap yang mana Allah Ta’ala simpan untuk suatu hikmah yang lain. Alah berfirman, artinya, "Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak". (QS. an-Nisaa`: 19).
Di antara faidah dan hikmah dari ujian dan cobaan adalah sebagai berikut:
• Membersihkan dan menghapus dosa-dosa dan kesalahan serta menghantarkannya kepada derajat yang tinggi di surga. Tidaklah hal itu diperoleh melainkan bagi mereka yang mampu bersabar dan meng-harap pahala dari Allah Ta’ala Tali
• Memotivasi seseorang untuk benar-benar ikhlas dalam berdo’a. Kembali bertaubat dengan sesungguhnya, pasrah dan berserah diri kepada. Allah berfirman, artinya, "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilang-kannya melainkan Dia sendiri". [(QS. al-An`am :17). Sebagian ulama Salaf berkata, "Merupakan sunnatullah bahwasannya Allah Ta'ala menyeru hambanya untuk beribadah kepadaNya dengan diberikan keluasan rizqi, kesehatan yang terus menerus agar mereka kembali kepada Allah dengan sebab kenikmatan-kenikmatan tersebut. Jika mereka tidak mau melakukannya juga, maka Allah Ta’ala timpakan kepada mereka musibah sebagai peringatan berupa kemiskinan dan kesusahan mudah-mudahan mereka kembali kepadaNya".
• Mengetahui betapa besar kenikmat-an dan kesehatan yang diberikan, bagi mereka yang lupa akan kenikmatan tersebut. Karena kenyataan menunjukkan bahwa apabila dibandingkan antara kenikmatan dan kesehatan akan jauh lebih besar dan lebih banyak porsinya daripada kesengsaraan atau musibah yang didapatkan.
• Tidak peduli terhadap gemerlapnya dunia karena kefanaannya, dan semangat dalam memotivasi diri untuk berlomba beramal dalam mempersiapkan hari pertemuannya dengan Rabb Penguasa alam. Sesungguhnya seorang hamba apabila berfikir dengan akal sehatnya tentang berpulangnya orang-orang yang dicintainya, niscaya ia akan sadar diri, bahwa mereka telah mereguk air pelepas dahaga dengan gelas yang mana ia harus melaluinya dengan gelas yang sama yaitu kematian.
Saudaraku… menjadilah kalian orang-orang yang senantiasa bersabar terhadap musibah yang menimpa, bersyukur ketika mendapat kenikmatan, bersabar atas segala kesengsaraan, karena sabar adalah penghapus kesalahan dan dosa. Allah Ta’ala berfirman, artinya, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar". (QS. al-Baqarah: 155)
JALAN MENUJU ISTIQOMAH
Kaum muslimin rahimakumullah, di dalam kehidupan manusia, Allah telah menetapkan jalan yang harus ditempuh oleh manusia melalui syariat-Nya sehingga seseorang senantiasa Istiqomah dan tegak di atas syariat-Nya, selalu menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya serta tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. Allah ta’ala telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa istiqomah.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap beristiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)” (QS. Al Ahqaaf [46]: 13-14)
Akan tetapi bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin untuk senantiasa terus dan sempurna dalam istiqomahnya. Terkadang seorang hamba luput dan lalai yang menyebabkan nilai istiqomah seorang hamba menjadi berkurang. Oleh karena itu, Allah memberikan jalan keluar untuk memperbaiki kekurangan tersebut yaitu dengan beristigfar dan memohon ampun kepada Allah ta’ala dari dosa dan kesalahan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS. Fushshilat [41]: 6). Di dalam al-Qur’an maupun Sunnah telah ditegaskan cara-cara yang dapat ditempuh oleh seorang hamba untuk bisa meraih istiqomah. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar. Allah Ta’ala berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim [14] : 27). Makna “ucapan yang teguh” adalah dua kalimat syahadat. Sehingga, Allah akan meneguhkan orang yang beriman yang memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat ini di dunia dan di akhirat.
Kedua, membaca al-Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya. Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur‘an itu dari Robb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl [16]:102)
Ketiga, berkumpul dan bergaul di lingkungan orang-orang saleh. Hal ini sangat membantu seseorang untuk senantiasa istiqomah di jalan Allah ta’ala. Teman-teman yang saleh akan senantiasa mengingatkan kita untuk berbuat baik serta mengingatkan kita dari kekeliruan. Bahkan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa hal yang sangat membantu meneguhkan keimanan para sahabat adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman yang artinya, “Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran [3]:101)
Keempat, berdoa kepada Allah ta’ala agar Dia senantiasa memberikan kepada kita istiqomah hingga akhir hayat. Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)
Kelima, membaca kisah Rasulullah, para sahabat dan para ulama terdahulu untuk mengambil teladan dari mereka. Dengan membaca kisah-kisah mereka, bagaimana perjuangan mereka dalam menegakkan diinul Islam, maka kita dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud [11]: 120)
Kaum muslimin rahimakumullah demikianlah sedikit yang dapat kami sampaikan sebagai renungan bagi kita semua untuk meniti jalan istiqomah. Semoga Allah ta’ala memberikan keteguhan kepada kita untuk senantiasa menjalankan syariat-Nya hingga kelak kematian menjemput kita semua. Amiin ya Mujibbassaailiin.
Minggu, 09 November 2008
Muhammadiyah Jateng Tetapkan DPD KH. Drs. Marpuji
1. Nama Lengkap : KH. DRS. MARPUJI
2. Tanggal Lahir : 21 Agustus 1951
3. Tempat Lahir : Klaten
4. Nomor Buku : 545 571
5. Alamat : Jaten RT 02 RW 05 Desa Beku, Kecamatan Karanganom
Kabupaten Klaten 57475
6. Isteri : Siti Zulaichah (Klaten, 1951)
7. Anak : a. Isna Fahmi Uswati (Surakarta, 1981)
b. Tazkiyatun Ni'mah (Surakarta, 1982)
c. Zumana Masriyatur Rahmah (Surakarta, 1984)
8. Spesialisasi : Ilmu Agama Islam/Syari'ah
II. PENDIDIKAN
1. 1962 SR Negeri 6 Tahun Karangan, Karanganom
2. 1968 PGAP Muhammadiyah (4tahun) di Karanganom
3. 1971 PGAA Negeri (6tahun) di Klaten
4. 1974 Baccalaureat IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Syari'ah
5. 1978 Doktoral IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Sayari'ah
6. 1983 Program Latihan Penelitian Agama (PLPA) Departemen Agama
RI di Jakarta
7. 2006 Program Magister Studi Islam (Ekonomi Islam) UII
III. RIWAYAT PEKERJAAN
1. 1978-1979 Staf Redaksi Penerbitan Bulan Bintang Jakarta
2. 1979-1980 Dosen IKIP Muhammadiyah Surakarta, pada mata kuliah
Al -Islam/Kemuhammadiyahan
3. 1981-1983 Guru Al-Islam SPG Muhammadiyah Surakarta
4. 1981- 2008 Dosen Fakultas Agama Islam UMS
IV. PENGALAMAN JABATAN
1. 1979-1981 Sekretaris BKK IKIP Muhammadiyah Surakarta (UMS)
2. 1981-1983 Sekretaris Fakultas Ushuluddin UMS
3. 1984-1986 Dekan Fakultas Agama Islam UMS
4. 1985-1988 Sekretaris BKS-PTIS Jawa Tengah
5. 1986-1988 Dekan Fakultas Agama Islam UMS (jabatan Ke II)
6. 1987-1988 Ketua Pusat Pengkajian Islam UMS
7. 1988-1992 Pembantu Rektor III UMS
8. 1992-1996 Pembantu Rektor IV UMS
9. 1966-2000 Pembantu Rektor III UMS
V. PENGALAMAN/JABATAN DALAM MUHAMMADIYAH
A. Di Lingkungan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM)
1. 1966-1967 Ketua Pimpinan Ranting IPM PGAM Karanganom
2. 1968-1969 Ketua Pimpinan Cabang IPM di Karanganom
3. 1971-1972 Sekretaris Pimpinan Daerah IPM Kabupaten Klaten
4. 1972-1973 Anggota Pengurus Komisariat IMM Fakultas Syari’ah IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta
5. 1973-1974 Sekretaris Pimpinan Wilayah IPM Jawa Tengah
6. 1975-1976 Ketua I Pimpinan Wilayah IPM Jawa Tengah
B. Di Lingkungan Muhammadiyah
1. 1978-1979 Sekretaris BKP-AMM Daerah Klaten
2. 1983-1985 Ketua BKP-AMM Daerah Kodia Surakarta
3. 1986-1991 Wakil Sekretaris II Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kodia
Surakarta
4. 1986-1991 Sekretaris PWM Majlis Tarjih Jawa Tengah
5. 1992-1996 Wakil Ketua PWM Majlis Tarjih Jawa Tengah
6. 1996-2000 Wakil Bendahara PWM Jateng
7. 2000-2005 Wakil Ketua PWM Jawa Tengah
8. 2000-2005 Wakil Ketua BPH Universitas Muhammadiyah Surakarta
9. 2005-2009 Wakil Ketua BPH Universitas Muhammadiyah Surakarta
10. 2005-2010 Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah
VI. PENGALAMAN/KUNJUNGAN KE LUAR NEGERI
1. 1987 Singapura (kunjungan ke Muhammadiyah Singapura)
2. 1987 Malaysia (kunjungan ke Pusat Islam Malaysia, Bank Islam Malaysia,
Tabung dan Urusan Haji Malaysia dan Islam di Kelantan)
3. 1990 Konferensi Kemahasiwaan Asia-Pasifik di Kuala Lumpur
4. 1995 Brunei Darussalam (Seminar Tentang Perkembangan Ilmu-ilmu Islam di
Asia Tenggara).
5. 2001 Studi Banding ke berbagai Perguruan Tinggi di Australia.
VII. KARYA ILMIAH
1. Syari’at Islam di dalam Memelihara Anak Yatim, Risalah Baccalaureat Fakultas Syari’ah IAIN.
2. Studi Perbandingan tentang Daya Ikat Perundang-undangan Hukum Positip dan Hukum Islam, Skripsi Doktoral Fakultas Syari’ah IAIN.
3. Konversi Agama ke Islam di Kalangan Orang-orang Tiong Hwa di Surakarta, hasil penelitian.
4. Gelandangan di Daerah Kartasura, hasil penelitian.
5. Profil Jama’ah Haji Kotamadia Surakarta tahun 1991, hasil penelitian.
6. Konversi Agama (Studi Kasus Dalam Tabloid Al-Hikmah) Tahun 1996, hasil penelitian.
7. Pandangan Ibnu Hazm Tentang Nafkah Isteri Kepada Suami, hasil penelitian tahun 2002.
8. Moralitas Titik Tolak Pembangunan Umat, makalah.
9. Keluarga Berencana dalam Tinjauan Islam, makalah.
10. Membina Keluarga Bahagia dan Sejahtera, makalah.
11. Urgenitas Akal dan Wahyu dalam Kajian Fiqh, makalah.
12. Keluarga Sakinah, makalah.
13. Essensi Ibadah dalam Islam, makalah.
14. Prinsip-prinsip Akidah Islam, makalah.
15. Sejarah Hukum Islam di Indonesia pada masa Kolonial, makalah.
16. Akhlak Qur’ani, makalah.
17. Perkembangan Hukum Islam di Indonesia sesudah Kemerdekaan RI., makalah
18. Muhammadiyah menjelang Muktamar ke-42, makalah.
19. Profil dan Perkembangan Perguruan Tinggi Islam Swasta, makalah.
20. Pandangan Islam mengenai Aborsi, makalah.
21. Metode Memahami Islam Secara Integratif, makalah.
22. Sejarah Peradilan Islam di Indonesia, makalah.
23. Pemikiran Islam di Indonesia & Kontribusinya pada Pembangunan, dalam Akademika, Edisi No. 3/th. VIII/95.
24. Prinsip-Prinsip Kerjasama dalam Perburuhan, Perspektif Islam, dalam Shuhuf, Edisi No. 1, th. VIII/96.
25. Tauhid Lingkungan Hidup, dalam Akademika, Edisi No. 2, th. XIV/96.
26. Risalah Kehidupan Beragama dalam Masyarakat yang Majemuk, dalam Shuhuf, Edisi No. 2, th. VIII/96.
27. Tanggung Jawab Fungsionaris Mahasiswa dalam Pengembangan Studi Islam dan Kemuhammadiyahan, dalam Tata Kerja Kemahasiswaan, Edisi Mei 1996.
28. Spiritualitas Masyarakat Islam di Era Globalisasi, dalam Shuhuf, Edisi No. 1, th. IX/97.
29. Teori Penggantian Hukum Syar’i dalam Ushul Al-Fiqh Klasik, dalam Ishraqi, Vol. 1, Nomer 2, Juli – Desember 2002.
30. ETIKA BISNIS ISLAMI (Tinjauan Terhadap Praktek Monopoli di Indonesia), dalam Jurnal Ilmu Hukum, Vol.7, No. 2, 2 September 2004.
31. ETIKA BISNIS DALAM ISLAM (Kritik Terhadap Kapitalisme), dalam Shabran, Edisi 02, Vol. XIX, 2005.
32. KONTRIBUSI BMT DALAM PEMBERDAYAAN UMAT ( Studi Kasus BMT Ben Taqwa Kabupaten Grobogan Jawa Tengah), Tesis Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2006.
Demikian Riwayat Hidup ini saya buat sebenar-benarnya, dan harap menjadikan maklum.
Jumat, 07 November 2008
Hijablah Diri-Diri Kalian!
My dear sisters,…
Telah sampai padaku ilmu tentang empat orang wanita yang harus aku, sebagai lelaki, pertanggung jawabkan di “yaumil akhir” nanti, mereka adalah…Ibu, saudara perempuan, isteri dan anak-anak perempuanku.
My dear sisters,…
Banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian, hal yang mungkin juga sudah kalian ketahui, entah dari buku yang kalian baca, pengajian yang kalian ikuti dan dengarkan, atau yang lebih mutakhir..email dan internet.
Jika kali ini aku ingin mengulanginya lagi, harap jangan kalian gusar, ini hanya sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawabku, sebagaimana Allah telah tetapkan untukku.
Seandainya aku abaikan, ketakutanku hanya satu, kemurkaan-Nya.
Oleh karena itu, tolonglah aku dari murka-Nya, dengan membaca dan meresapkan apa yang akan aku sampaikan ini, agar merasuk kedalam kalbu, menetap didalam hati, dan berbuah amaliyah yang abadi.
My dear sisters,…
Hidup kita dibatasi waktu, usia kita bertambah sedangkan jatah hidup kita berkurang
sadarkah bahwa kita pastinya akan kembali menjumpai-Nya, Pencipta Yang Agung dan Maha Segala? sudahkah kita siapkan segala sesuatunya?
Bukan harta benda, bukan pangkat kedudukan, bukan pula gelar kebangsawanan…
Tidak..bukan itu semua…tapi Taqwa!!
Yaa…Taqwa…hanya ketaqwaan itu yang akan menyelamatkan kita, kini dan nanti, dunia akhirat.
Aku sangat paham bahwa kalianpun sudah mengetahui hal ini, tapi sudahkan kalian memulai mengayun langkah berjalan menuju Taqwa?
sudahkan pengetahuan itu membawa kepada kesadaran bahwa hidup kita bisa berakhir kapan saja…bahkan mungkin detik ini….
dan jika saat itu datang, mungkinkah diraih “khusnul khotimah” jika tidak kita persiapkan?
My dear sisters,…
Aku sadar dan mengerti jika kalian menganggap bahwa aku sendiri belumlah pantas menyandang gelar taqwa dan untuk itu belum pantas menasihati kalian…
dan itu benar, akupun teramat sadar akan hal itu…
aku belum separuh jalan menuju taqwa, bahkan seperempatnya pun belum…
jauh..masih jauh dari taqwa sebagaimana tuntunan Nabi kita
hanya saja Rasulullah sendiri telah bersabda, “Ballighu anni walau ayyah" (Sampaikanlah apa yang kalian dapat dariku walau hanya satu ayat)...
sedangkan Allah berfirman " . . . .Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah . . . . " [Al Hasyr:7]
Kini aku sampaikan kepada kalian, walau “hanya” soal Taqwa, walau hanya satu ayat...renungilah...bawalah dalam tidur malam kalian yang panjang...tadaburilah
Setiap hari, setiap jam, setiap detik dalam hidupku
Tak sekejappun aku lupa akan kalian, sebagai bagian dari hisabku dihadapanNya kelak…
Ketahuilah, lebih mudah bagiku menyampaikan kebenaran kalam-kalam Nya dan sunnah-sunnah rasulNya kepada Ibu, Istri dan anak-anakku..
Itu karena Ibu dan anak-anakku berada pada masa yang berbeda dengan kita…
Pada ibu, hormat dan kasihku sudah sampai padanya sebelum aku berbicara, karena keluasan hati dan pengalamannya…
Bagi anak-anakku, aku adalah panutan yang harus di gugu dan ditiru..
dengan seijin Allah, aku berusaha menjadi sebagaimana aku mengharapkan mereka menjadi sesuai harapan kami, orangtua mereka
Sedangkan istriku,…InsyaAllah dia sangat paham bahwa mematuhi saya, selama tidak menyekutukanNya, adalah bentuk pengabdian yang akan membawa dia ke Jannah Nya..
Akan halnya kalian, adik dan kakakku….usia kita tidaklah terpaut jauh...jaman kita sama…pendidikan kita setara…pergaulanlah yang membedakan kita..
Untuk itu, adikku…kakakku…pahamilah…aku berusaha untuk tidak menggurui kalian
Aku tidak melebihi dari kalian sebagai hambaNya
Anggaplah aku teman yang sekedar mengingatkan kalian sekaligus mengingatkan dirinya sendiri..
Bahwa hanya Taqwa yang memungkinkan kita berada bersama rasul-rasul dan orang-orang saleh..
Dan pakaian taqwa yang langsung membedakan perempuan-perempuan kekasihNya dengan yang bukan adalah Hijab!!!
Karena itu, tolonglah aku untuk menolong jiwa kalian,…
Hijablah diri-diri kalian…sesungguhnya itu lebih baik dari dunia dan seisinya…
Tidak, sekali-kali aku tidak memerintah kalian,..tidak…bukan aku, tapi Dia, Allah Tuhan segala Illah!
Dia yang memerintahkan, RasulNya yang menyampaikan, dan aku sekedar penyambung lidah..
My dear sisters,…
Telah aku sampaikan kalimatNya,…
Kini terserah pada kalian, apakah bersedia memenuhi dan meninggikan seruanNya
Atau menjalani kehidupan “sewajarnya” menurut anggapan kalian dan sebagian besar umat
Hijab adalah wajib bagi kalian perempuan sebagaimana wajibnya Sholat…
Hijab bukan sunnah, bukan pula adat istiadat,…bukan..
Janganlah kebiasaan dan kewajaran dunia melampaui apa-apa yang telah ditetapkanNya
Jalani hidup mengikuti aturan-aturanNya dan sunnah rasulNya
Maka keselamatan dunia akhirat ganjarannya
Dia, Allah, pemilik semesta dan seisinya..sudah sepantasnyalah kita berhukum dengan hukum-hukumNya..
Maka kebenaran hukum manakah yang kalian pilih?
Dia, Allah, pemilik sah diri dan jiwa manusia…kepadaNyalah sebenar-benar kita akan kembali..
Maka kemana kalian akan sembunyi jika maut datang meminang?
Sabtu, 25 Oktober 2008
Ukhti, Yakinlah Jodohmu Kan Datang....

Perawan tua! Wuih, sadis banget…Yup, itulah julukan yang diberikan untuk kaum hawa yang belum menikah di usia ‘senja’. Ketika saya mengikuti sebuah acara perlombaan anak-anak TPA di daerah Bantul, saya bertemu dengan seorang sosok wanita yang saya pikir waktu itu adalah seorang guru yang sekaligus ibu rumah tangga.
Tampilan sederhana dengan jilbab yang menjulur ke dadanya. Kebetulan, kami menjadi juri pada lomba yang sama. Untuk menghindari kekakuan, saya mencoba memperkenalkan diri dan sedikit berbincang dengan beliau. Beliau seorang guru TK kelahiran tahun 1969. Dengan usia yang sekian, saya berpikir beliau telah berkeluarga dengan beberapa orang anak. Ketika saya Tanya “putra pinten bu?” (punya anak berapa bu?-jawa) beliau menjawab, “dereng nikah mba, mboten payu”.(belum menikah mba, ngga laku-jawa)…Terkejut sekali saya waktu, ditambah rasa bersalah kalau pertanyaan saya tadi menyinggung perasaan beliau. Alhamdulillah, beliau tidak tersinggung malah kami bisa semakin akrab.
Sosok lain, saya teringat murobbiyah-murobbiyah saya. Di tengah kesibukan yang ekstra padat, mereka masih meyempatkan waktu untuk membina kami. Dari ketiga akhawat yang pernah menjadi murobbiyah saya (selamanya akan tetap menjadi murobbiyah saya) semuanya belum menikah. Mereka rata-rata sudah berumur 25-up. Untuk lingkungan kampus, usia sekian tentu bukan menjadi masalah ketika belum menikah. Tetapi, ketika pulang ke kampung halaman dengan hidup bertetangga tentu akan menimbulkan pertanyaan yang kurang mengenakkan. Kapan nikah mba? Itu pertanyaan yang kerapkali terdengar. Bahkan saya yang ‘baru’ berusia 22 tahun pun tidak lepas dari pertanyaan tersebut ketika saya sudah pulang kampung. Menyegerakan menikah adalah sesuatu ayng dianjurkan. Akan tetapi ketika jodoh belum juga datang, apakah itu sesuatu hal yang harus dipaksakan?
Saya teringat satu nasehat dari seorang ustadz di Yogya ketika mengikuti kajian pagi hari di Masjid Mardliyah. Beliau menyampaikan materi pernikahan. Salah satu pesan beliau, “Jadi akhawat jangan suka mancing-mancing ikhwan, misal dengan sms ‘koq ngga nikah-nikah akh’ dan sebagainya”. Beliau melanjutkan ketika akhawat berkepala 2 belum menikah itu sesuatu yang wajar. Ketika berkepala 3 belum menikah juga, mungkin Allah masih ‘menahan’ jodoh kita. Ketika sudah berkepala 4 dan belum menikah juga, mungkin laki-laki dunia belum ada yang ocok untuk kita dan seterusnya. Beliau menambahkan agar kita tidak berburuk sangka terhadap Allah.
Benar sekali, di tengah penantian panjang yang belum tahu kapan berujung tidak sedikit akhawat yang mulai putus asa. “Apa karena aku yang kurang cantik?” dan pertanyaan-pertanyaan retorik sejenis yang ada di kepala akhawat muslimah. Akhirnya, mereka mulai melakukan treatment untuk menjaga penampilan. Mereka tidak lagi enggan merogoh kocek hanya sekedar untuk antri di salon berjam-jam. Akibatnya, dana infak berkurang, jadwal dakwah terabaikan dan banyak sekali konsekuensi yang harus ditanggung ketika memutuskan untuk menjadi wanita yang ‘berbeda’.
Pola pikir akhawat yang seperti ini, bukan 100% kesalahan mereka. Kalau mau jujur, berapa banyak ikhwan yang ridho beristri akhawat ‘biasa’. Kebanyakan kaum ikhwan tentu akan pilih-pilih wanita untuk menjadi pendamping hidupnya. Amat disayangkan, sebab yang menjadi kriteria bukan sekedar agamanya yang oke, tapi juga harus cantik, putih, lulusan fakultas kedokteran (bukan karena saya alumni fakultas kehutanan lho…) dan seterusnya. Itu adalah sesuatu yang manusiawi tentunya, tapi tidak sedikit dari mereka yang tidak melanjutkan proses ta’aruf hanya karena salah satu kriteria duniawi itu tidak terpenuhi.
Jodoh, rezeki dan semua yang kita alami adalah atas kehendakNya. Ketika saya silaturrahim ke rumah seorang ustadzah di Boyolali, beliau berpesan tsiqoh saja terhadap Allah Karena pasti ia akan memeberi yang trebaik untuk hambanya. Saya jadi teringat pada Q.S Al-Baqarah ayat 216 “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
Untuk para ukhti sholihah, yakinlah jika saatnya tepat “pangeran berkuda putih” itu akan datang menjemputmu.
Bila Kematian telah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
Teman sejati hanyalah sepi
Sekiranya seperti itulah syair lagu religi yang diciptakan sekaligus dinyanyikan oleh Opick. Lagu yang mampu membuat bulu kuduk saya ikut merinding mendengarnya demi menghayati setiap untaian kata-katanya. Walau begitu saya tidak jera untuk me-replay MP3 yang sering saya dengar di sela-sela aktivitas sehari-hari.
Sesungguhnya tidak ada didunia ini yang paling saya resahkan selain “Kematian”. Ketika kematian pasti akan terjadi pada semua makhluk-Nya yang hidup. Kematian yang selalu menyimpan begitu banyak misteri yang sangat sulit ditembus dengan akal manusia yang sangat terbatas ini.
Dulu saya termasuk orang yang sangat tidak peduli dengan kematian. Saya berpikir kematian itu hal yang lumrah saja dan tidak perlu dipusingkan karena pasti menimpa siapa saja yang hidup. Sampai akhirnya.. Innalillahi wa innalillahi roji'un.. saya harus kehilangan seorang ayah tercinta (semoga almarhum diampuni semua dosa-dosanya). Allah Subhana wata'ala masih berkenan mengingatkan saya melalui perpisahan itu. Hati saya sedih karena perpisahan itu harus saya alami tanpa diberi kesempatan untuk bertemu yang terakhir kalinya, karena waktu itu saya masih harus tinggal di Hong Kong.
Tepat dibulan Ramadhan tahun 2006 ayah berpulang, meninggalkan kami semua. Pukulan yang cukup membuat saya tersadar akan arti kehidupan dan kematian. Begitu kehilangan dan merasa sangat berdosa karena sebagai anaknya saya merasa belum pernah mampu membahagiakannya apalagi membalas jasa-jasa beliau semasa hidupnya.
Belum lama saya harus belajar menerima kehilangan ayah, kembali saya harus mendapatkan kabar meninggalnya seorang teman saya yang belum lama bekerja di Taiwan, disinyalir kematiannya itu karena sakit yang dideritanya semenjak di Indonesia. Dia seorang teman yang saya kenal saat masih sama-sama bekerja di Hong Kong. Tidak terlalu dekat namun sempat akrab beberapa saat menjelang kepulangannya ke Indonesia dulu sampai akhirnya dia mendaftarkan diri untuk mencoba peruntungannya di negeri Taiwan itu. Cita-citanya untuk berikhtiar agar bisa merubah hidupnya harus kandas karena ajal tidak bisa ditunda untuk segera menjemputnya.
Melalui kejadian itu semua, saya mulai tergugah untuk lmulai membaca-baca buku pengetahuan tentang kehidupan setelah kematian. Saya mulai mencari-cari buku yang bisa membantu saya meredakan rasa penasaran saya tentang apa sebenarnya yang terjadi setelah kematian menimpa, setelah nafas terhenti dan jantung tak berfungsi lagi. Ketika jasad mulai ditimbun dengan tanah, lantas jasad itu benar-benar sendiri dan hanya berteman dengan amalan-amalan semasa hidupnya. Sering pula saya ketakutan membayangkan bila hal serupa menimpa saya padahal saya merasa belum siapkan diri dengan amalan yang ada. Namun semua adalah kuasa-Nya. Tidak ada daya kita untuk menolaknya.
Kini saya semakin menyadari cinta Allah Subhana wata’ala kepada saya, sampai detik ini masih diberikan kesempatan untuk terus memperbaiki diri dari semua dosa yang pernah saya lakukan. Sampai detik ini diberi-Nya kemudahan untuk terus bermunajad memohon ampunan dan syawal ini, semoga dosa-dosa terampuni dan kembali menjadi hamba yang fitrah . Amin amin ya rabbal ‘alamin..
"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan." (Q.S.AL MUNAAFIQUUN ayat 11)
Kamis, 23 Oktober 2008
MENGGAIRAHKAN KEMBALI GJDJ

I. PENDAHULUAN
Sesungguhnya da’wah kepada agama Allah SWT merupakan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para pengikutnya. Adapun misi da’wah itu sesungguhnya adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid dan dari neraka menuju syurga. Allah Berfirman :
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". ( QS Yusuf : 108 )
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", … ( QS An Nahl : 36Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". ( QS Al Anbiya’ : 25 )
Konsepsi dan manifestasi dakwah harus bisa merangkum dimensi kerisalahan, kerahmatan, dan kesejarahan dalam kehidupan manusia. Sebagai program jangka panjang, gerakan dakwah membutuhkan banyak sarana, metode, dan penunjang yang mesti diupayakan berjalan sinergis, integral, dan saling melengkapi dalam upaya mewujudkan kemaslahatan hidup umat manusia.
Sebagai organisasi Islam, sejak awal Muhammadiyah telah menjadikan dakwah sebagai salah satu misi dan agenda kerja utama. Dakwah yang dijalankan oleh Muhammadiyah hingga sekarang tetap berlandas pada AL Qur’an dan As Sunnah Shahihah. Motivasi dakwah yang lil-Lahi Ta’ala itu digerakan melalui berbagai media maupun metode, baik kepada umat ijabah maupun umat dakwah, untuk menghantarkan manusia kepada kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat. Karena kuatnya misi dakwah yang dilakukan gerakan ini, maka Muhammadiyah menegaskan identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
II. EMPAT LANGKAH AWAL DAKWAH
Menurut pemikiran KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah adalah wujud konkret dari realisasi pesat Al Qur’an untuk berpegang teguh pada agama Allah, bersikap dan menifestasikan taqwa, serta selalu mengajak kepada Islam. Allah berfirman :
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” ( QS Ali Imran : 101 – 104 )
Dalam keyakinan KH. Ahmad Dahlan, orang yang telah mampu memhami Islam sebagai risalah Allah, akan mewujudkan ajaran – ajaran Islam melalui perjuangan dengan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sebagai konsep hidup ditengah – tengah masyarakat, sehingga cita – cita mengenai baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur ( masyarakat utama, adil makmur yang diridlai Allah SWT) dapat terwujud. Kunci utama dalam keseluruhan usaha tersebut adalah keharusan bagi umat untuk melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar.
Ayat diatas mengisyaratkan pengarahan Allah berupa empat langkah pokok yang harus ditempuh dan diupayakan secara terus menerus guna mewujudkan masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah. Keempat langkah tersebut :
1. Pembinaan masyarakat muslim diatas nilai – nilai ketaqwaan yang sebenar – benarnya sehingga seluruh aspek kehidupan manusia mencerminkan keteguhan pada syari’at Islam.
2. Umat harus didorong gar berkemmpuan memahami dan menjabarkan seluruh ajaran Agama Islam, dan menjadikannya sebagai konsepsi hidup secara konkret, jelas dan lengkap.
3. Diperlukan usaha keras untuk menghimpun potensi umat secara total, kompak dan diorganisasi secara baik.
4. Membangun kemampuan melaksanakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar terhadap masyarakat pada umumnya dengan metode yang tepat sehingga ajaran – ajaran agama Islam dapat diwujudkan dalam masyarakat.
Dilatarbelakngi pemikiran dan usaha konkret KH. Ahmad Dahlan yang telah dikerjakannya itu, maka Muktamar ke – 38 tahun 1971 di Makassar akhirnya menetapkan keputusan “ dalam membina masyarakat dengan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar, untuk mencapai maksud dan tujuannya yang paling tepat adalah mengadakan gerakan jama’ah dan dengan dakwah jama’ah.”
III. PENGERTIAN GERAKAN JAMAAH DAN DAKWAH JAMAAH
Beberapa point dibawah ini meruapakan pengertian seputar Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah ( GJDJ ) :
1. Pengertian Jama’ah disini adalah sekelompok keluarga / rumah tangga dalam satu lingkungan tempat tinggal dan merupakan satu ikatan yang dijiwai kesadaran hidup berjama’ah, yang pembentukan dan pembinaanya diusahakan oleh anggota Persyarikatan.
2. Jamaah merupakan organisasi informal yang tidak perlu membawa – bawa nama Muhammadiyah, karena jama’ah adalah lembaga masyarakat, bukan eselon Persyarikatan.
3. Inti Jamaah adalah sekelompok anggota Muhammadiyah yang mengambil inisiatif membentuk dirinya sebagai potensi penggerak.
4. Pembinaan kepada jama’ah dilakukan dengan cara dakwah jama’ah. Dakwah jama’ah ini menjadi suatu system dakwah, yang aktifitas dakwahnya bertumpu sepenuhnya kepada mutu, kegiatan, dan pengorganisasian anggota Persyarikatan seumumnya tanpa kecuali.
Berdasarkan pengertian diatas, maka GJDJ itu bergerak pada basis kelompok – kelompok umat. Dengan kata lain bisa disebutkan, bahwa GJDJ merupakan gerakan dakwah yang berbasiskan komunitas atau satuan unit masyarakat untuk menata dan mewujudkan alam kehidupan yang lebih baik, sesuai dengan perintah dan Sunah-Nya. Dihitung berdasarkan jumlah jama’ah, idealnya GJDJ terdapat sepuluh sampai lima belas kepala keluarga. Melalui dan di dalam komunitas – komunitas tersebut, warga dan aktifis Muhammadiyah bisa menjalankan kewajiban dakwahnya.
IV. PRINSIP – PRINSIP PENGEMBANGAN GJDJ
Sebagai sebuah konsep dan strategi dakwah, maka untuk menjalankan dan mengembangkan GJDJ ini dibutuhkan gagasan dan perencanaan yang bisa diterapkan. Pokok – pokok pikiran berikut perlu dipertimbangkan sebagai prinsip – prinsip pemgembangan kegiatan GJDJ dalam rangka pemberdayaan umat dan komunitas masyarakat :
1. Fokus utama pengembangan kegiatan dan dakwah jamaah harus diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat local ( komunitas ) dalam memobilisasi sumber – sumber local dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Satuan social yang dipilih adalah berdasarkan lokalitas ( ruang local ), sebab warga akan lebih siap diberdayakan melalui isu – isu lokal.
Pengertian lokal adalah tempat orang berada untuk berkreasi dan mengembangkan diri di sebuah tempat. Dalam konteks lokal , warga akan berinteraksi satu dengan yang lain dengan intensitas yang hampir bersinggungan dan biasanya mereka terikat secara geografis maupun organisasional. Satuan lokal itu bisa berupa RT, kelompok pengguna air (irigasi) kelompok tani, kelompok arisan, kelompok pengajian, dan organisasi – organisasi yang menjadi tumbuhnya pengembangan dan interaksi pribadi masyarakat. Inisiatif dan penentuan kebutuhan warga dibuat di tingkat lokal oleh warga setempat melalui proses partisipatif.
2. Pengembangkan kegiatan dan dakwah jamaah harus mengakui adanya variasi dan perbedaan, baik antar aktor yang terlibat maupun variasi potensi dan permasalahan lokal yang tidak sama. Satuan pengambil keputusan bukanlah sosok yang tunggal, melainkan prural yang mencakup individu, keluarga, birokrasi local, perusahaan – perusahaan yang berskala kecil, dan organisasi – organisasi kemayarakatan lokal. Semua aktor tersebut akan berpartisipasi dan memobilisasi sumber – sumber pembangunan / potensi lokal yang sangat variatif.
3. Cara mencapai tujuan bersama program pengembangan jama’ah dilakukan melalui proses pembelajaran sosial ( social learning ). Pengembangan kemampuan dilakukan melalui proses interaksi dalam memecahkan persoalan bersama secara langsung. Komunitas didorong terus menerus untuk belajar aktif melalui pengalaman empirik dan aksi sehingga dapat membangun kapasitas komunitas dalam memahami, mengidentifikasi, serta memformulasikan potensi yang dimilikinya, merumuskan permasalahan yang dihadapinya, penyusunan alternatif – alternatif pemecahan masalah yang perlu dilakukan.
Dalam hal ini peran fasilitator adalah sebagai agen perubahan dan organisator dalam rangka menumbuhkan kesadaran kritis, melatih ketrampilan, dan meningkatkan kepercayaan diri warga komunitas. Di satu sisi, komunitas pembelajar demikian akan dapat memunculkan sikap kerja yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing mereka dan meningkatkan kecerdasan kolektif komunitas; disisi lain, dapat memperkokoh solidaritas dan persaudaraan antar warga dalam komunitas.
4. Untuk menjamin efektifitas program, berbagai bentk kegiatan dan dakwah jama’ah dalam rangka pemberdayaan masyarakat harus terorganisasikan, terkoordinasikan, dan terintegrasikan dengan rapi, cermat, dan berkelanjutan dalam satuan – satuan sosial wilayah tempat tinggal. Dengan demikian semua kegiatan masyarakat yang terorganisasikan (organized community activities ), dan bukan merupakan fragmen – fragemen kegiatan yang berserak dan terpisah.
V. PENUTUP
Sebagi gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah menjadikan aktifitas dakwah sebagai bagian tak terpisahkan dari selurauh program dan agenda aksinya. Diera modern ini, Muhammadiyah juga dituntut untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dakwahnya termasuk strategi dan metodenya. Sebab kalau kita berdakwah secara konvensional ( bertabligh secara umum) maka tentu kita akan ketinggalan dengan dakwahnya para penentang Syari’at Islam melalui media massa. Diperlukan inovasi dan kreasi dalam mengembangkan dakwah, Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) adalah salah satu strategi ( metode ) yang ditemukan oleh Muhammadiyah, namun belum mampu diaplikasikan di tengah masyarakat karena beberapa factor. Diantara factor tersebut adalah ; kurang percaya dirinya sebagian kader / aktifis Muhammadiyah untuk melaksanakan program ini, kurangnya sosialisasi tentang konsep dakwah ini, kurangnya Juklak dan Juknis di tingkat lapangan, kurangnya pelatihan tentang konsep dakwah ini.
Mudah – mudahan sedikit informasi ini mampu membangkitkan semangat dan memompa potensi kita untuk menjalankan misi gerakan kita sebagai Gerakan Islam amar ma’ruf nahi munkar sehingga terwujud masyarakt utama, adil makmur yang diridloi Allah.
