Senin, 21 Juli 2008

PILAR - PILAR DAKWAH


Dakwah sebuah keharusan yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku Islam. Tanpa dakwah, dipastikan Islam akan segera lenyap dari permukaan bumi ini Katakanlah (wahai Muhammad!):”Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mrngikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiroh (hujjah/ ilmu)yang nyata. MahasuciAllah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musryik”.(QS. Yusuf / 12:108)
Dakwah merupakan sebuah keharusan dan keniscayaan yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tanpa Dakwah dapat dipastikan bahwa Islam akan segera lenyap dari permukaan bumi ini. Sebab, hanya Dakwahlah yang mampu mempertahankan eksistensi Islam hingga saat ini. Dalam mana kita dapat membayangkan, apa jadinya jika dunia sepi dari kegiatan Dakwah? Sepi dari kegiatan transfer ilmu agama?, Pasti akan muncul sebuah generasi yang tidak mengenal aturan hidup (syari’at). Pada akhirnya akan muncul suatu kehidupan yang berantakan (chaose). Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya jika Al-Qur’an menyebutkan bahwa Dakwah merupakan jalan para Rosul Allah. Sejak Rosul pertama, Nuh ‘alaihis salam, sampai dengan rosul terakhir, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Secara etimologi, Dakwah berasal dari akar kata da’a, yang mengandung arti mengajak, menyeru dan mengundang. Adapun secara terminologi, merupakan segala aktivitas yang dilakukan secara terorganisir, untuk mengajak seseorang atau lebih kepada jalan yang lurus (ash-shiroth al-mustaqim), mengeluarkan sesorang dari kesesatan menuju hidayah dan dari kegelapan menuju cahaya Islam, dengan menggunakan metode yang sistematis berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
Dalam berDakwah, setidaknya ada sepiluh pilar yang harus diperhatikan oleh para da’i. Dalam mana sepuluh pilar ini merupakan hasil ijtihad seorang ulama dan mujahid Islam yang sangat populer, yaitu Hassan al-Banna. Selanjutnya, sepuluh pilar itu sudah banyak dijelaskan oleh banyak ulama dan cendekiawan muslim, seperti Said Hawa dalam Afaaq Risalah at-T’lim, Dr. Abdullah al-Khatib dan Dr. Abdu Halim dalam Nazharat fi Risalah T’lim, Dr. Yusuf al-Qordowi dalam Aulawiyat al-harokah al-Islamiyah dan yang terakhir Rahmad Abdullah dalam bukunya untukmu kader Dakwah. Adapun herarkis sepuluh pilar itu adalah.
Pertama, al-Fahmu. Yang dalam bahasa Indonesia berarti pemahaman. Artinya setiap da’i harus mampu memberikan pemahan yang benar kepada obyek Dakwahnya tentang apa yang ia Dakwahkan, dalam hal ini adalah Islam.
Kedua, al-ikhlas. Artinya seorang da’i harus melandasi seluruh aktivitas Dakwahnya dengan totalitas keikhlasan kepada Allah SWT. Da’i tidak boleh mengharapkan dari aktivitas Dakwahnya itu melainkan keridho’an Allah SWT, bukan yang lain. Sehingga orang-orang yang diajak pun mampu merasakan pancaran kesucian jiwanya. Dalam pada itu, mereka pun akhirnya akan percaya bahwa yang disampaikan oleh da’i itu merupakan kebenaran dari Allah SWT, sebelum pada akhirnya mereka pun akan mengikuti arahan dan pesan Dakwah dari da’i tersebut. Bahkan tidak mustahil kelak mereka pun akan menjadi da’i-da’i baru yang akan meneruskan agenda Dakwah muka bumi ini.
Ketiga, al-’Amal. Sangat ironis sekali jika seorang da’i mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu, namun ia sendiri tidak melakukan apa yang diucapkan. Disamping mendapat murka dari Allah SWT, orang lain pun akan meremehkannya dan tidak akan menggubris apa yang dikatakannya. Dalam pada itu, sangat besar kemungkinannya agenda Dakwah akan terhambat. Dikarenakan ulah sebagian da’i yang tidak mampu memberi contoh yang baik (qudwah hasanah) bagi obyek Dakwahnya.
Keempat, al-Jihad. Di dalam Dakwah amal saja tidak cukup, melainkan diperlukan pula adanya kesungguhan dan usaha keras dari para da’i tersebut. Sehingga Dakwah itu dapat berjalan secara efektif dan mampu mengajak lebih banyak objek Dakwah. Tanpa kesungguhan, Dakwah akan berjalan ala kadarnya, bahkan sangat dimungkinkan akan terjadi futur (patah semangat) dalam diri da’i itu. Mengingat Dakwah bukanlah pekerjaan yang ringan. Sehingga kesungguhan merukapakan hal yang harus dimiliki oleh setiap da’i.
Kelima, at-Tadhiyah. Disamping kesungguhan, diperlukan pula adanya pengorbanan dari da’i, baik pengorbanan material maupun mental. Merupakan kebohongan besar, jika ada yang ingin mengambil jalan Dakwah tanpa mau berkorban. Mengingat orientasi Dakwah tidak lah sama dengan perdagangan, yang nota bene berorientasi pada keuntungan material. Maka dari itu, pengorbanan merupakan suatu keniscayaan bagi para da’i.
Keenam, ath-Tho’ah. Dalam berDakwah seorang da’i tidak boleh berjalan secera sendiri-sendiri. Melainkan harus secara berjam’ah. Oleh karena itu, mutlak diperlukan adanya kepatuhan dari setiap da’i terhadap keputusan jam’ah itu. Jika tidak, maka hampir dapat dipastikan bahwa Dakwah tersebut akan kandas di tengah jalan, bahkan bisa jadi para da’i itu akan mengalami kesulitan dan rintangan dari musuh-musuh Dakwah.
Ketujuh, ats-Tsabat. Disamping memiliki kepatuhan, seorang da’i dituntut untuk memiliki keteguhan hati. Sehingga sanggup melawan segala rintangan dan kesulitan yang ditemuinya dalam menjalankan tugas dan amanahnya dari Dakwah tersebut.
Kedelapan, at-Tajarrud. Agar dapat menyampaikan Dakwahnya dengan benar, maka seorang da’i juga harus memiliki paradigma berfikir yang benar dan terbebas dari pengaruh pemikiran-pemikiran non-islami. Dalam pada itu, ketika seorang da’i sudah tercemari paradigma berfikirnya, maka ada kemungkinan da’i, yang sedianya ingin menyelamatkan orang, malah menyesatkannya. Inilah makna dari At-Tajarrud itu.
Kesembilan, al-Uhkuwah. Ketika berDakwah,hampir dapat dipastikan bahwa da’i akan menemui pelbagai rintangan, sehingga bantuan dari da’i lain sangat diperlukan dalam rangka menyukseskan agenda Dakwah. Dari itu, rasa persaudaraan, baik sesama da’i, maupun antara da’i dengan obyek Dakwahnya, merupakan hal yang sangat krusial dalam Dakwah. Sehingga ketika memerlukan bantuan ia dapat memanggil saudaranya.
Kesepuluh, ats-Tsiqoh (kepercayaan). Mustahil rasanya, seseorang mau mengikuti perkataan orang lain tanpa adanya kepercayaan orang tersebut kepadanya. Dari itu, kepercayaan merupakan hal yang harus dibangun oleh para da’i di hadapan para obyek Dakwahnya. Dalam mana, ketika kepercayaan sudah ada maka para da’i, dapat dengan mudah mengarahkan obyek Dakwahnya untuk mengikuti arahan dan pesan Dakwah yang ia berikan padanya. Sebelum pada akhirnya, da’i tersebut juga dapat mempercayakan suatu perkara kepada kader Dakwah yang muncul dari mereka, untuk meneruskan Dakwahnya. Maka rasa saling mempercayai dari kedua belah pihak merupakan sebuah keniscayaan.Itulah sepuluh pilar dalam Dakwah. Dalam mana harus dipegang teguh oleh setiap da’i dan dilaksanakan menurut herarkinya. Dan mudah-mudahan, dengan melaksanakan itu semua, Allah SWT berkenan untuk menjadikan kita para da’i yang berkompeten dan meraih kesuksesan dalam berDakwah

Generasi meninggalkan Shalat dan Mengikuti Syahwat

Allah Ta’ala berfirman:

"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memper-turutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun." (terjemah QS. Maryam: 58-60).

Ibnu Katsir menjelaskan, generasi yang adhoo’ush sholaat itu, kalau mereka sudah menyia-nyiakan sholat, maka pasti mereka lebih menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah tiang agama dan pilarnya, dan sebaik-baik perbuatan hamba. Dan akan tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan kelezatannya,, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia. Maka mereka itu akan menemui kesesatan,, artinya kerugian di hari qiyamat.

Adapun maksud lafazh Adho’us sholaat ini, menurut Ibnu Katsir, ada beberapa pendapat. Ada orang-orang yang berpendapat bahwa adho'us sholaat itu meninggalkan sholat secara keseluruhan (tarkuhaa bilkulliyyah). Itu adalah pendapat yang dikatakan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi, Ibnu Zaid bin Aslam, As-Suddi, dan pendapat itulah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Pendapat inilah yang menjadi pendapat sebagian orang salaf dan para imam seperti yang masyhur dari Imam Ahmad, dan satu pendapat dari As-Syafi’i sampai ke pengkafiran orang yang meninggalkan shalat (tarikus sholah) setelah ditegakkan, iqamatul hujjah (penjelasan dalil), berdasarkan Hadits:
بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ (رواه مسلم في صحيحه برقم: 82 من حديث جابر).
“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir). Dan Hadits lainnya:
الْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. (رواه الترمذي رقم 2621 والنسائ 1/231 ،وقال الترمذي :هذا حديث حسن صحيح غريب).
“Batas yang ada di antara kami dan mereka adalah sholat, maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh-sungguh ia telah kafir.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Sunannya nomor 2621dan An-Nasaai dalam Sunannya 1/231, dan At-Tirmidzi berkata hadits ini hasan shohih ghorib). Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Sami As-Salamah, juz 5 hal 243).

Penuturan dalam ayat Al-Quran ini membicarakan orang-orang saleh, terpilih, bahkan nabi-nabi dengan sikap patuhnya yang amat tinggi. Mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun selanjutnya, disambung dengan ayat yang memberitakan sifat-sifat generasi pengganti yang jauh berbeda, bahkan berlawanan dari sifat-sifat kepatuhan yang tinggi itu, yakni sikap generasi penerus yang menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu.

Betapa menghujamnya peringatan Allah dalam Al-Quran dengan cara menuturkan sejarah "keluarga pilihan" yang datang setelah mereka generasi manusia bobrok yang sangat merosot moralnya. Bobroknya akhlaq manusia dari keturunan orang yang disebut manusia pilihan, berarti merupakan tingkah yang keterlaluan. Bisa kita bayangkan dalam kehidupan ini. Kalau ada ulama besar, saleh dan benar-benar baik, lantas keturunannya tidak bisa menyamai kebesarannya dan tak mampu mewarisi keulamaannya, maka ucapan yang pas adalah:. "Sayang, kebesaran bapaknya tidak diwarisi anak-anaknya.” Itu baru masalah mutu keilmuan nya yang merosot. lantas, kata dan ucapan apa lagi yang bisa untuk menyayangkan bejat dan bobroknya generasi pengganti orang-orang suci dan saleh itu? Hanya ucapan “seribu kali sayang” yang mungkin bisa kita ucapkan. Setelah kita bisa menyadari betapa tragisnya keadaan yang dituturkan Al-Quran itu, agaknya perlu juga kita bercermin di depan kaca. Melihat diri kita sendiri, dengan memperbandingkan apa yang dikisahkan Al-Quran.

Kisah ayat itu, tidak menyinggung-nyinggung orang-orang yang membangkang di saat hidupnya para Nabi pilihan Allah. Sedangkan jumlah orang yang membangkang tidak sedikit, bahkan melawan para Nabi dengan berbagai daya upaya. Ayat itu tidak menyebut orang-orang kafir, bukan berarti tidak ada orang-orang kafir. Namun dengan menyebut keluarga-keluarga pilihan itu justru merupakan pengkhususan yang lebih tajam. Di saat banyaknya orang kafir berkeliaran di bumi, saat itu ada orang-orang pilihan yang amat patuh kepada Allah. Tetapi, generasi taat ini diteruskan oleh generasi yang bobrok akhlaqnya. Ini yang jadi masalah besar.

Dalam kehidupan yang tertera dalam sejarah kita, Muslimin yang taat, di saat penjajah berkuasa, terjadi perampasan hak, kedhaliman merajalela dan sebagainya, ada tanam paksa dan sebagainya; mereka yang tetap teguh dan ta'at pada Allah itu adalah benar-benar orang pilihan. Kaum muslimin yang tetap menegakkan Islam di saat orientalis dan antek-antek penjajah menggunakan Islam sebagai sarana penjajahan, namun kaum muslimin itu tetap teguh mempertahankan Islam dan tanah airnya, tidak hanyut kepada iming-iming jabatan untuk ikut menjajah bangsanya, mereka benar-benar orang-orang pilihan. Sekalipun tidak sama antara derajat kesalehan para Nabi yang dicontohkan dalam Al-Quran itu, dengan derajat ketaatan kaum Muslimin yang taat pada Allah di saat gencarnya penjajahan itu, namun alur peringatan ini telah mencakupnya. Dengan demikian, bisa kita fahami bahwa ayat itu mengingatkan, jangan sampai terjadi lagi apa yang telah terjadi di masa lampau. Yaitu generasi pengganti yang jelek, yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya.

Peringatan yang sebenarnya tajam ini perlu disebar luaskan, dihayati dan dipegang benar-benar, dengan penuh kesadaran, agar tidak terjadi tragedi yang telah menimpa kaum Bani Israel, yaitu generasi jelek, bobrok, meninggalkan shalat dan mengikuti syahwat. Memberikan hak shalat

Untuk itu, kita harus mengkaji diri kita lagi. Sudahkan peringatan Allah itu kita sadari dan kita cari jalan keluarnya? Mudah-mudahan sudah kita laksanakan. Tetapi, tentu saja bukan berarti telah selesai. Karena masalahnya harus selalu dipertahankan. Tanpa upaya mempertahankannya, kemungkinan akan lebih banyak desakan dan dorongan yang mengarah pada "adho'us sholat" (menyia-nyiakan atau meninggalkan shalat) wattaba'us syahawaat (dan mengikuti syahwat hawa nafsu).

Suatu misal, kasus nyata, bisa kita telusuri lewat pertanyaan-pertanyaan. Sudahkah kita berikan dan kita usahakan hak-hak para pekerja/ buruh, pekerja kecil, pembantu rumah tangga, penjaga rumah makan, penjaga toko dan sebagainya untuk diberi kebebasan mengerjakan shalat pada waktunya, terutama maghrib yang waktunya sempit? Berapa banyak pekerja kecil semacam itu yang terhimpit oleh peraturan majikan, tetapi kita umat Islam diam saja atau belum mampu menolong sesama muslim yang terhimpit itu? Bahkan, dalam arena pendidikan formal, yang diseleng-garakan dengan tujuan membina manusia yang bertaqwa pun, sudahkah memberi kebebasan secara baik kepada murid dan guru untuk menjalankan shalat? Sudahkah diberi sarana secara memadai di kampus-kampus dan tempat-tempat pendidikan untuk menjalan-kan shalat? Dan sudahkah para murid itu diberi bimbingan secara memadai untuk mampu mendirikan shalat sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam ? Kita perlu merenungkan dan menyadari peringatan Allah dalam ayat tersebut, tentang adanya generasi yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat.

Ayat-ayat Al-Quran yang telah memberi peringatan dengan tegas ini mestinya kita sambut pula dengan semangat menang-gulangi munculnya generasi sampah yang menyianyiakan shalat dan bahkan mengumbar syahwat. Dalam arti penjabaran dan pelaksanaan agama dengan amar ma'ruf nahi munkar secara konsekuen dan terus menerus, sehingga dalam hal beragama, kita akan mewariskan generasi yang benar-benar diharapkan, bukan generasi yang bobrok seperti yang telah diperingatkan dalam Al-Quran itu. Fakir miskin, keluarga, dan mahasiswa Dalam hubungan kemasyarakatan yang erat sekali hubungannya dengan ekonomi, terutama masalah kemiskinan, sudahkah kita memberi sumbangan sarung atau mukena/ rukuh kepada fakir miskin, agar mereka bisa tetap shalat di saat mukenanya yang satu-satunya basah ketika dicuci pada musim hujan? Dalam urusan keluarga, sudahkah kita selalu menanya dan mengontrol anak-anak kita setiap waktu shalat, agar mereka tidak lalai? Dalam urusan efektifitas da’wah, sudahkah kita menghidup-kan jama'ah di masjid-masjid kampus pendidikan Islam: IAIN (Institut Agama Islam Negeri) ataupun STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) yang jelas-jelas mempelajari Islam itu, agar para alumninya ataupun mahasiswa yang masih belajar di sana tetap menegakkan shalat, dan tidak mengarah ke pemikiran sekuler yang nilainya sama juga dengan mengikuti syahwat?

Lebih penting lagi, sudahkah kita mengingatkan para pengurus masjid atau mushalla atau langgar untuk shalat ke masjid yang diurusinya? Bahkan sudahkah para pegawai yang kantor-kantor menjadi lingkungan masjid, kita ingatkan agar shalat berjamaah di Masjid yang menjadi tempat mereka bekerja, sehingga tidak tampak lagi sosok-sosok yang tetap bertahan di meja masing-masing --bahkan sambil merokok lagi-- saat adzan dikuman-dangkan? Masih banyak lagi yang menjadi tanggung jawab kita untuk menanggulangi agar tidak terjadi generasi yang meninggalkan shalat yang disebut dalam ayat tadi. Shalat, tali Islam yang terakhir

Peringatan yang ada di ayat tersebut masih ditambah dengan adanya penegasan dari Rasulullah, Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam :

لَيَنْقُضَنَّ عُرَا اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ. (رواه أحمد).
“Tali-tali Islam pasti akan putus satu-persatu. Maka setiap kali putus satu tali (lalu) manusia (dengan sendirinya) bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertamakali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat. (Hadits Riwayat Ahmad dari Abi Umamah menurut Adz – Dzahabir perawi Ahmad perawi). Hadits Rasulullah itu lebih gamblang lagi, bahwa putusnya tali Islam yang terakhir adalah shalat. Selagi shalat itu masih ditegakkan oleh umat Islam, berarti masih ada tali dalam Islam itu. Sebaliknya kalau shalat sudah tidak ditegakkan, maka putuslah Islam keseluruhannya, karena shalat adalah tali yang terakhir dalam Islam. Maka tak mengherankan kalau Allah menyebut tingkah "adho'us sholah" (menyia-nyiakan/ meninggalkan shalat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan lebih dulu dibanding "ittaba'us syahawaat" (menuruti syahwat), sekalipun tingkah menuruti syahwat itu sudah merupakan puncak kebejatan moral manusia. Dengan demikian, bisa kita fahami, betapa memuncaknya nilai jelek orang-orang yang meninggalkan shalat, karena puncak kebejatan moral berupa menuruti syahwat pun masih pada urutan belakang dibanding tingkah meninggalkan shalat.

Di mata manusia, bisa disadari betapa jahatnya orang yang mengumbar hawa nafsunya. Lantas, kalau Allah memberikan kriteria meninggalkan shalat itu lebih tinggi kejahatannya, berarti kerusakan yang amat parah. Apalagi kalau kedua-duanya, dilakukan meninggalkan shalat, dan menuruti syahwat, sudah bisa dipastikan betapa beratnya kerusakan. Tiada perkataan yang lebih benar daripada perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya sangat mengecam orang yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Maka marilah kita jaga diri kita dan generasi keturunan kita dari kebinasaan yang jelas-jelas diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk mereka yang telah dan akan binasa akibat melakukan pelanggaran amat besar, yaitu meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Amien.

Rabu, 28 Mei 2008

PENDIDIKAN MEMERANGI PORNOGRAFI


Pada Desember 2006, didepan Akademi Jakarta, sastrawan Taufik Ismail membacakan pidato kebudayaan bertajuk “Budaya Malu dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka”. Gerakan ini kata Taufik, tak bersosok organisasi resmi dan tidak berdiri sendiri. Gerakan ini bekerjasama bahu membahu melalui jaringan mendunia, memiliki dana raksasa, media masa cetak dan elektronik pengeras suaranya.
Taifik Ismail menyebutkan ada 13 komponen gerakan Syahwat Merdeka pertama: Perilaku seks bebas yang dilakukan terang - terangan dan sembunyi - sembunyi. Kedua. Penerbitan majalah dan tabloid mesum. Ketiga. Produser, penulis skrip, dan pengiklan acara televisi syahwat. keempat, Situs porno di internet. kelima, Penulis, penerbit dan penggandis buku syahwat sastra dan sastra. Keenam,Penerbit dan pengedar komik cabul. Ketujuh; Produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Kedelapan, Fabrikan dan konsumen alkohol, Kesembilan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesepuluh, fabrikan, pengiklan, dan pengisap nikotin. Kesebelas, pengiklan perempuan dan taki-laki panggilan. Keduabelas, germo dan pelanggan prostitusi. Ketigabelas, dokter dan dukun praktisi aborsi.
Satah satu produk dari gerakan ini adalah pornografi. Di negara kita pornografi sudah jadi industri raksasa. Produknya laris­ manis dan terdistribusi aman ­merata sehingga dengan mudah dapat dikonsumsi tewat media cetak, televisi, internet, film layer tebar, VCD, dan telepon seluler. Aksesnya pun teramat mudah dijangkau. Tinggal datangi loper koran di pinggir jalan, anak-anak usia sekolah dapat memilih media bergambar orang dewasa telanjang atau berpakaian mini serta beradegan mecum.
Data dari American Demographic Magazine menyebutkan, saat ini di internet tersedia tidak kurang dari 4,2 juta website porno, 100 ribu di antaranya pornografi anak dan 89% di antaranya berisi kekerasan seksuat remaja metalui chat room.

Baden survey internet
TopTen Reviews. com pun mengungkap, industri pornografi dunia menghasilkan uang Rp 886 trityun. Total pendapatan bisnis pornografi dunia ini mengalahkan total pendapatan delapan perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia yaitu Microsoft, Google, Amazon, eBay, Yahool Apple, Netflix, dan Earthlink.
Amerika Serikat menghasilkan rata-rata 13.140 video seks setiap tahun. Artinya, setiap 39 merit, sebuah video seks terbaru diproduksi negara-negara adi daya.

Peran Agama
PORNOGRAFI bisa jadi telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian remaja mesa kini. Akibatnya, remaja menjadi ilusif, lebih suka melamun, meremehkan nilai-nilai social, dan melakukan peritaku seks menyimpang. Sebuah penelitian di Makassar terhadap remaja yang biasa mengakses situs porno di internet mengungkapkan, terdapat korelasi positif antara intensitas mengakses situs seks dengan permisivitas peritaku seksual remaja. Makin tinggi intensitas remaja datam mengakses situs seks di internet, makin permisif perilaku seksualnya. Responder penelitian ini separuh remaja laki-laki dan separuh lagi remaja perempuan. Maka tak heran kasus-kasus kekerasan seksual, pemerkosaan, kehamilan tak disengaja, dan aborsi yang dilakukan remaja terjadi tiap hari dan jadi konsumsi tayangan berita harian televisi dan koran.
Tentu saja ini menjadi keprihatinan kita bersama. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, kita harus malu karena kondisi ini sangat kontradiktif dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman datam al-Qur'an Surat Yusuf ayat 53, "Sesungguhnya nafsu syahwat itu selatu mendorong kepada kejahatan. " Di surat al-Israa' ayat 32 la berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan satu jalan yang buruk." Jika kita membiarkan nafsu syahwat dan zina menjadi peritaku anak bangsa ini, berarti kita sedang menunggu azab Allah.
Maka peran agama sangat diperlukan. Sebab agama memiliki syariat yang mengikat para penganutnya. Syariat ini dapat digunakan untuk membangun kesadaran generasi muda dan tua terhadap bahaya pornografi. Kesadaran itu dapat dicerminkan metalui peritaku yang baik dengan memegang teguh aturan agama dan adat yang sejalan dengan semangat syariat. Datam surat an-­Nur ayat 30-31 Allah SWT memerintahkan taki-laki dan perempuan yang beriman untuk menjaga pandangan dan memeilihara kernaluannya. Jika perintah ini dipahami dan diamalkan tiap mustim/muslimah, insya Allah bahaya pornografi menyingkir.

Peran pendidikan
SOLUSI lain untuk mengatasi bahaya pornografi adalah pendidikan. Lewat pendidikan peritaku generasi muda diarahkan untuk menjadi pribadi berakhtak mulia dan bermartabat. Mereka kritis memandang pornografi sebagai bahaya laten yang harus terus diperangi. Salah satu mata pelajaran di bangku sekolah adalah pendidikan budi pekerti. Pelajaran ini mengajarkan peserta didik agar memiliki rasa malu, baik yang berkaitan dengan diri sendiri maupun yang berhubungan dengan orang lain. Kenapa malu? Sebab malu berarti menjauhkan diri dari perbuatan terceta, atau menahan diri dan meninggalkan semua kemaksiatan dan kejahatan. Ini sejalan dengan hadits Nabi SAW, "Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, `Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu'." (H.R Bukhari). Masih kata Taufik Ismail, ciri kolektif seluruh komponen Gerakan syahwat Merdeka adalah budaya malu yang telah terkikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka.
Di ruang kelas, guru juga dapat mengangkat satu tema mengenai varian pornografi dan mendiskusikannya dengan siswa. Dari diskusi ini, guru dapat memberi penjelasan yang memadai tentang segala hal yang berkaitan dengan seksuatitas dan pornografi yang selatu memancing keingintahuan siswa. Jangan biarkan siswa mengetahui sendiri pernak-pernik seksualitas dan pornografi, Sebab itu akan menjerumuskannya pada liang penasaran. Guru memiliki kewajiban membimbing siswa dalam memahami dunianya.
Namun pembentukan moralitas dan nitai-nitai budi pekerti tidak bisa dibebankan pada institusi sekolah saja. Terbitnya regulasi yang memerintahkan penghapusan terhadap situs-situs porno tidaktah cukup. Abdultah At­Darraz memandang pembentukan moralitas harus dilakukan dalam dua tingkatan sistem kehidupan.
Pertama, penanaman nilai – nilai moral melatui institusi keluarga secara praktis. Ini dapat ditakukan dengan memberikan bimbingan yang baik kepada anak, mengasuh anak dengan penuh kasih sayang, memberikan tuntunan akhtak yang baik kepada keluarga, dan membiasakan anak untuk menghargai kaidah dan kebiasaan-kebiasaan periLaku keseharian yang baik dalam rumah tangga.
Kedua, pembentukan nilai – nilai moral dalam hubungan sosial. Dalam konteks ini berupa melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela, Mempererat hubungan kerjasama antar sesama, menggalakkan perbuatan- ­perbuatan terpuji dan memberi manfaat bagi kehidupan orang banyak, dan membina hubungan menurut tata tertib dan adat kebiasaan sosial yang terpuji.
Tujuan pendidikan adalah memanusiakan dan member­dayakan manusia. Pornografi merupakan eksploitasi sistematis terhadap nilai kemanusiaan seorang manusia hingga terpuruk ke kehidupan tak berdaya. Dua kutub ini saling bertolak belakang, namun keduanya dapat dijembatani dalam sebuah interaksi spiritualitas, di mana semua aspek kehidupan manusia berkiblat pada aturan Allah SWT dalam sebuah syariat.

Jumat, 23 Mei 2008

JALAN MENUJU HIDAYAH

Hidayah Allah tidak diberikan kepada manusia atas dasar kedudukan / status keluarga/ nasab, tetapi hidayah Allah akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara orang - orang yang dikehendaki-Nya. Hidayah Allah akan dianugerahkan kepada siapa saja yang mau mencarinya dan berkeinginan keras untuk meraihnya. Namun demikian Allah dan Rasul-Nya telah memberi rambu - rambu jalan menuju hidayah Allah SWT, diantaranya adalah :
1. Al Qur’an Al Qur’an adalah jalan utama menuju hidayah Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya :
Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih...” ( QS Al Isra’ : 9 )

Alif laam miin. itab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” ( Al Baqarah :1-2)
Oleh karena itu barangsiapa yang ingin memperoleh hidayah, hendaklah benar - benar berpegang teguh kepada Al Qur’an yaitu dengan rajin membacanya, dan mempelajarinya serta mengamalkannya.Imam As Sangithi menerangkan tentang QS Al Isra’ ayat 9 sebagai berikut : Al Qur’an adalah petunjuk jalan yang benar baik dalam Aqidah, Syari’ah maupun mu’amalah. Maka dari itu Rasulullah berpesan kepada kita sebagai berikut:

“ Telah kutinggalkan kepadamu dua perkara dan jika kamu sekalian berpegang teguh dengannya, kamu tidak akan sesat selama - lamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.” (Mutafaqqun Alaih)
2. Rasul Jalan kedua untuk meraih hidayah Allah SWT adalah mengikuti Rasul. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
“... dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” ( QS Asy Syuura : 52 )
Maka barangsiapa yang mendambakan hidayah Allah SWT, harus mengikuti sunnah Rasulullah. Adapun cara mengikuti Rasulullah adalah :1). Meyakini kebenaran Rasulullah Allah SWT berfirman :

“ Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (Ash Shaf :9)
2. Mengikuti akan sunah - sunahnya.

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu....” (QS Al Ahzab : 21 )
3. Menjauhi dari segala yang bertentangan dengan sunahnya
“ Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” ( QS Al Hasyr : 7 )
3. Mujahadah Bersungguh - sungguh dan berusaha keras bahwa kita benar - benar menginginkan hidayah Allah. Ungkapan dengan nyata dan sungguh - sungguh, segala apa yang kita inginkan dengan harapan kuat bahwa Allah akan membukakan fikiran, hati dan jiwa kita serta membimbingnya ke jalan yang benar. Karena Allah telah berjanji dalam firman-Nya :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” ( QS Al Ankabut : 69 )
Disini seorang muslim diingatkan dalam menjalani tugas hudup ini harus bersungguh - sungguh, tidak boleh menyerah terhadap ujian dan cobaan, karena hidup bagi seorang muslim adalah ujian, sebagaimana diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya:
“ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”( QS Al Mulk : 2 )
4. Do’a Do’a adalah senjata orang beriman. Do’a adalah intisari ibadah dalam Islam, sekaligus do’a adalah salah satu jalan meraih hidayah Allah SWT. Maka seorang muslim tidak boleh malas - malasan dari do’a. Dan seandainya Allah tidak berkenan memenuhi permohonan hamba-Nya, niscaya Ia tidak akan berfirman sebagaimana ayat berikut :

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu...” (QS Al Mukmin : 60 )
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah:186)

“ Sesungguhnya Allah malu terhadap hamba-Nya yang menengadahkan kedua tangganya kepada-Nya (berdo’a) lalu Allah menolaknya dalam keadaan kosong.”( HR Tirmidzi )

“ Tidak ada orang yang memohon kecuali akan Aku ijabahi, dan tidak ada orang yang meminta kecuali akan Aku beri, dan tidak ada orang yang memohon ampun kecuali akan Aku ampuni.” ( HR Bukhari )

(Oleh Ust. Drs. Mulyono , Ahad Pagi, 25 Mei 2008 )

Selasa, 20 Mei 2008

PANDAI - PANDAI MEMENEJ WAKTU

PANDAI – PANDAI MEMENEJ WAKTU

Oó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Waktu demi waktu begitu cepat perjalanannya, sehingga tidak sadar kalau kita ini telah kehilangan banyak kesempatan. Kesempatan untuk berjuang, kesempatan untuk berbuat baik / beramal sholeh, dan kesempatan – kesempatan yang lain. Untuk itu kalau tidak pandai kita manfaatkan waktu sebaik – baiknya, maka kita akan termasuk orang – orang yang merugi. Sebagaimana Allah telah mengingatkan kepada kita melalui firman-Nya :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al Ashr :1-3 )

Dari ayat diatas, sangatlah jelas bahwa kebanyakan manusia tidak memperhatikan pentingnya waktu. Termasuk didalamnya dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah dimuka bumi ini. Sebab sebagian besar dari kita telah melupakan kesempatan tersebut, dan perlu diingat kesempatan kita dibatasi oleh umur, oleh kemampuan. Kesibukan dalam melaksanakan aktifitas duniawi telah banyak menyita waktu dan kesempatan kita dalam rangka melaksanakan tugas dan tanggungjawab untuk menggapai kebahagiaan yang kekal di akhirat kelak.

Ada tiga hal yang Allah SWT tawarkan melalui ayat diatas, diantaranya adalah : Orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran. Maka muncullah pertanyaan, siapakan orang yang beriman itu? Allah SWT menjelaskan orang beriman, sebagaimana firman-Nya :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” ( QS AL Hujuurat : 15 )

Iman merupakan standart utama / pokok untuk mendapatkan kenikmatan dan kemuliaan disisi Allah SWT. Sebagaimana firman Allah :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan”. (QS An Nahl : 97 )

Kemudian amal sholeh, yaitu perbuatan yang bermanfaat jauh dari madhorot, yang dilakukan dengan ikhlas hanya untuk mencari ridlo Allah dan sesuai dengan tuntutnan Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Nasai :
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَاكَانَ لَهُ خَالِصًاوَابْتَغِى بِهِ وَجْهَهُ
“ Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan, kecuali yang murni untuk Allah dan untuk mencari wajah Allah.”

Allah SWT juga berfirman :

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS Ali Imran : 31 )

Iman dan amal sholeh punya pengertian sendiri sendiri, tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Karena tidak disebut orang beriman kalau ia tidak beramal sholeh. Begitu juga tidak disebut amal sholeh kalau tidak di dasari dengan keimanan.

Berikutnya tentang nasehat untuk kebenaran dan kesabaran. Kebenaran itu mutlak hanyalah yang datang dari Allah SWT , الحق من رّبّك . Kita sebagai umat Muhammad berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran yang telah dibawa oleh nabi kita Muhammad SAW sebagaimana sabda Rasulullah yang sudah popular, yang artinya : “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” Dan dalam hadits yang lain juga ditegaskan : “Sampaikanlah kebenaran itu walau terasa pahit”. Adapun teknik dan cara menyampaikan kebenaran dan mengajak manusia agar selalu berjalan diatas jalan Allah telah diterangkan dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah :

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl : 125)

Betapa lengkapnya Allah telah membekali hamba – hamba-Nya untuk berjuang didalam dakwah-Nya. Disamping kewajiban untuk menasehati dalam hal mentaati kebenaran, juga menasehati untuk selalu melakukan kesabaran. Sebagaimana firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” ( QS Ali Imran : 200 )

Dari keterangan diatas, sebagai warga Persyarikatan Muhamamdiyah kita mestinya sangat tersinggung. Sebab Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang bergerak dibidang dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Sementara secara realitas, masih banyak lahan dakwah yang sering kita abaikan. Masih banyak umat yang membutuhkan uluran tangan kita, masih banyak jiwa yang membutuhkan sentuhan dakwah kita, masih banyak tugas dan tanggungjawab yang diembankan ke pundak kita. Akan tetapi kita seringkali lupa, cuek bahkan acuh tak acuh terhadap persoalan diatas. Kita sibuk dengan urusan – urusan pribadi; mengumpulkan harta, membangun rumah mewah, berusaha memiliki kendaraan mewah, hingga memanjakan anak – anak kita. Kita lupa kalau ada tugas dakwah yang diembankan ditangan kita.

Ditambah persoalan yang dihadapi Muhammadiyah kian hari kian kompleks. Beberapa persoalan klasik yang selama ini masih menjadi PR yang belum terselesaikan adalah proses kaderisasi di Muhammadiyah yang kian mandek, ideology Muhammadiyah yang mulai pudar, kelangkaan kader – kader ‘ulama , komitmen sebagian pimpinan / aktifis yang mulai melemah sampai dakwah Muhammadiyah yang “kurang diminati oleh umat”. Bahkan lebih ironis lagi banyak kader Muhammadiyah yang terbuai dengan mainan baru mereka, yakni partai politik, sehingga kader – kader Muhammadiyah tersebut akhirnya tidak punya banyak waktu untuk Muhammadiyah dan akhirnya melupakan Muhammadiyah sebagai induknya. Ini adalah sebagian persoalan yang dihadapi Muhammadiyah. Persoalan tersebut satu persatu harus diurai, hingga akhirnya kita dapat merumuskan solusinya.

Mari pada kesempatan yang mulia ini kita cermati bersama, bahwa kita Ber- Muhammadiyah selama ini sebagai Pimpinan sudah melaksanakan tugas kita masing – masing atau belum? Sampai tahun ketiga pasca Musyawarah Daerah periode Muktamar ke – 45 ini, program apa yang telah kita laksanakan. Kemudian program apa yang belum dapat direalisasikan? Kemudian mari kita memberikan perhatian yang serius pada program – program yang belum terlaksana, sehingga sampai masa jabatan kita akan dapat menyelesaikan semua program dengan baik.

Mari kita luangkan waktu kita sejenak untuk melihat strategi dakwah Muhammadiyah yang telah dibangun oleh para pendiri dan pendahulu Muhammadiyah, mereka telah meletakkan landasan dakwah yang bila dilaksanakan dengan baik maka kita akan menggapai kesuksesan besar. Landasan dakwah tersebut lebih dikenal dengan 12 langkah Muhammadiyah tahun 1938 – 1940, adalah sebagai berikut :
1. Memperdalam masuknya Iman.
2. Memperluas Paham Agama.
3. Membuahkan budi pekerti.
4. Menuntun Amal Intiqod (self correcti )
5. Menguatkan persatuan
6. Menegakkan keadilan
7. Melakukan kebijaksanaan.
8. Menguatkan majelis tanwir
9. Mengadakan konferensi bagian
10. Mempermusyawarahkan keputusan
11. Mengawaskan gerakan jalan
12. Mempersambungkan gerakan luar

Untuk lebih jelas dan faham, silahkan bisa dibaca pada Tafsir Langkah Muhammadiyah 1938 – 1940 dalam buku “ Ideologi dan Strategi Muhammadiyah” Karya Drs. Hamdan Hambali.

Akhirnya pada kesempatan yang berbahagia ini kami mengingatkan kepada para rekan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sragen beserta Majelis, Lembaga, Badan, Ortom, Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah dan hadirin yang hadir pada Rapat Pimpinan Daerah ( RAPIMDA) ke – III tahun ini, marilah kita mengevaluasi diri sejauh mana tugas dan tanggungjawab masing – masing kita laksanakan? Selanjutnya marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk membaca sejarah, kenapa KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah? Apa sebenarnya tujuan Muhammadiyah? Apa yang diperjuangkan oleh Muhammadiyah? Dasar – dasar apa yang telah diletakkan oleh para pendiri Muhammadiyah? Setelah itu marilah kita gandengkan tangan kita bersama – sama, kita satukan visi dan misi kita, kita satukan hati, fikiran dan tenaga kita untuk membangun, mengembangkan dan meneruskan perjuangan para pendahulu kita, yakni “ Terwujudnya masyarakat utama yang adil dan makmur yang diridloi oleh Allah SWT.”

Hanya dengan usaha maksimal secara bersama – sama sesuai dengan tugas dan tanggungjawab masing – masing, serta menyerahkan segala keputusan kepada Allah SWT, mudah – mudahan semua yang kita cita – citakan bakal terwujud.

Nasrun Minallah Wa Fathun Qorieb.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

( Disampaikan pada Pidato Ifittah Rapat Pimpinan Daerah (RAPIMDA) Muhammadiyah Sragen tanggal 20 Mei 2008 )

Minggu, 18 Mei 2008

PRINSIP - PRINSIP AQIDAH SHOHIHAH



Diantara pengertian Iman kepada Allah, adalah iman atau yakin bahwa Allah adalah Ilah (sesembahan) yang benar. Allah berhak disembah tanpa menyembah kepada yang lain, karena Dialah pencipta hamba- hamba-Nya, Dialah yang memberi rizki kepada manusia, yang mengetahui segala perkara yang dilakukan oleh manusia. Dialah yang Maha Kuasa, yang memberikan pahala bagi yang taat kepada-Nya, yang mengazab manusia yang berbuat maksiat. Untuk tujuan ibadah inilah Allah menciptakan jin dan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS Adz Dzariyat :56-58)

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui.” (QS 2 :21-22)
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah juga menegaskan bahwa Ia mengutus para Rasul kepada manusia untuk mengingatkan kepada mereka agar beribadah kepada Allah semata. Ia berfirman :
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", (An Nahl :36)

“ Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". ( Al Anbiya’ : 25)

“ (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu, Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya Aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya,” ( QS Huud : 1-2)
Hakikat ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala bentuk perhambaan seperti, doa, sholat, shaum, qurban, nadzar, serta berbagai macam ibadah lainnya yang dilakukan dengan penuh ketundukan dan kepatuhan terhadap Allah, disertai rasa cinta kepada-Nya dan rasa hina dalam naungan keagungan-Nya. Nash - nash dibawah ini melengkapi dalil - dalil diatas :

“....Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).... “( QS Az Zumar : 2-3)
Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia... “ ( Al Isro’ : 23 )

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS Al Mukmin : 14)
Sebuah hadits nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Mu’az menyatakan bahwa Rasulullah telah bersabda :

“ Hak Allah atas hamba - hamba_Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Iman kepada Allah juga mencakup keyakinan terhadap semua yang telah diwajibkan Allah kepada manusia, diantaranya yang tercakup dalam Rukun Islam, yakni : Syahadat (persaksian) bahwa tiada Ilah selain Allah dan Sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah; Menegakkan sholat, mengeluarkan zakat; shaum dibulan Ramadhan; dan haji ke Baitullah bagi mereka yang mampu melakukannya. Diantara kelima hal diatas, yang paling penting adalah Syahadat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah.
Syahadat Laa Ilaaha Illallah bermakna ketulusan ibadah tertuju hanya kepada Allah semata dan penolakan terhadap sesembahan lainya. Tidak ada yang patut disembah selain Allah. Oleh karena itu setiap yang disembah selain Allah, baik berbentuk manusia, malaikat, jin atau yang lain semua itu adalah bathil atau tertolak. Firman Allah :

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah Karena Sesungguhnya Allah, dialah (Tuhan) yang Haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil,... “ ( AL Hajj : 62 )
Diantara pengertian lain dari Prinsip Iman kepada Allah adalah keyakinan bahwa Allah ta’ala adalah pencipta alam semesta. Dialah yang mengatur alam semesta dengan ilmu dan kekuasaan yang dimiliki-Nya. Dialah raja di dunia dan di akhirat, Rabb semesta alam. Firman-Nya :
“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.” (Az Zumar:62)
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”( QS AL A’raf : 54 ) Iman kepada Allah berarti beriman kepada nama - nama-Nya yang mulia dan sifat - sifat-Nya yang agung, seperti yang tertera dalam Al Qur’a n dan telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW, tanpa mengubah, mengingkari, membatasi, dan menyerupakan dengan lainnya. Setiap muslim wajib meyakini tanpa mempersoalkannya. Nama - nama itu memiliki arti yang agung dan mulia, sesuai dengan sifat Allah sendiri. Allah berfirman :
“ tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” ( QS Asy Syura:11)

“ Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” ( An Nahl : 74 )
Inilah aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah, aqidah para sahabat Rasulullah dan para pengikutnya yang setia. Dan aqidah ini pulalah yang diambil sebagai rujukan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitabnya “Muqolat an Ashabil Hadits wa Ahlissunah.” Dan juga diambil oleh para ahli ilmu dan iman. Mudah - mudahan Allah SWT senantiasa menuntun kita untuk tetap berada pada aqidah yang benar. Amiin..

Jumat, 16 Mei 2008

I F F A H

Di penggalan masa ini, disaat kejahiliahan hampir merata di seluruh penjuru, upaya penjagaan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan, kesiasian dan kerendahan terasa lebih butuh untuk ditekankan. Terlebih bagi seorang muslimah yang telah mulai tumbuh kesadaran mempelajari Al Islam dan komitmen mengamalkannya. Iffah adalah bahasa yang lebih akrab untuk menyatakan upaya penjagaan diri ini. Iffah sendiri memiliki makna usaha memelihara dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak halal, makruh dan tercela.
Ada beberapa hal yang bisa menumbuhkan iffah, yang sewajarnya diusahakan oleh seorang muslimah diantaranya:
Ketaqwaan Kepada Allah
Hal ini merupakan asas paling fundamental dalam mengusahakan iffah pada diri seseorang. Ketaqwaan adalah pengekang seseorang dari perbuatan-perbuatan tercela yang dilarang oeh dienul Islam. Taqwa akan menyebabkan seseorang selalu berhati dalam melakukan berbagai perbuatan, baik di kala sendirian maupun keramaian mengamalkan sabda Nabi sholallohu alaihi wasalam " Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada…" segala anggota tubuh akan selalu terjaga jangan sampai melanggar larangan Allah sehingga terjerumus dalam kemurkaan-Nya. Mulutnya terjaga dari pembicaraan yang bermuatan dosa, baik dosa kepada Allah, maupun dosa kepada manusia seperti ghibah, fitnah adu domba berdusta, mngumpat kepada taqdir, mencela zaman dan lain sebagainya. Tangannya pun terjaga dari hal yang dilarang seperti mengambil yang bukan haknya, memukul tanpa kebenaran, bersentuhan/ berjabat tangan dengan yang bukan mahram dan lainnya. Mata pun demikian tak kalah dengan anggota tubuh yang lain tak ingin terjerumus dalam mengumbar pandangan yang diharamkan, dan seluruh anggota tubuh yang lainnya selalu terjauh dari larangan Allah azza wa jalla. Sungguh ketika taqwa berdiam pada diri seseorang, maka muncullah pribadi yang penuh dengan hiasan yang tak tertandingi keindahannya. Mengalahkan keindahan mutiara, emas, perak, berlian dan hiasan dunia yang lainnya. Taqwa tak sebatas hanya di masjid, atau di tempat kajian saja, namun ia melekat dimanapun dan kapanpun. Di rumah, tempat belajar, sekolah dan di segala tempat…
Nikah
Nikah adalah salah satu jalan lempang untuk menjaga kesucian diri. Bahkan sarana yang terutama untuk menumbuhkan sifat iffah. Dengannya terjaga pandangan mata dan kehormatan diri seorang muslimah. Yang memang godaan kepadanya sangat besar dan berat . maka nikah adalah solusi yang paling tepat. Ia adalah fitrah kemanusiaan yang di dalamnya terkandung rasa cinta dan kasih sayang serta kedamaian, yang tak di dapatkan dengan jalan-jalan yang lain. Ini sebagaimana firman Allah :
"dan diantara tanda kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang " ( QS Ar Rum : 21 )
Rasa Malu
Ia adalah sifat yang agung dan terpuji. Dengan rasa malu, seorang akan terhindar dari berbagai perbuatan yang keji, tidak pantas, mengandung dosa dan kemaksiatan. Ia menjadi bertambah indah ketika melekat pada diri seorang muslimah. Dengan malu seorang muslimah akan selalu nampak dalam fitrah kewanitaannya, tak mau mengumbar aurat tubuhnya, tak mau mengeraskan suara yang tak diperlukan di tengah kumpulan manusia, tak tertawa dengan selepas-lepasnya dan yang lain sebagainya. Orang yang awam sekali pun bila disuruh untuk memberikan penilaian terhadap dua orang , yang seorang adalah wanita yang menjaga rasa malunya. Seorang lagi tak pedulian tak punya rasa malu terhadap orang, bicara seenaknya duduk seenaknya, segalanya seenaknya tentu orang akan memberikan penilaian tinggi pada wanita yang pertama daripada wanita yang kedua. Rasa malu ini benar-benar akan menjadi penjaga yang baik bagi seorang muslimah. Ia akan menyedikitkan beraktivitas keluar rumah yang tanpa faedah, ia akan menjaga diri ketika berbicara dengan orang terlebih laki-laki yang bukan mahram. Tentu hal ini akan lebih menjaga kehormatannya.